Warna Kehidupan

Hanya itu yang dapat kuperbuat
dalam rentang waktu yang tersisa
yagn selalu melaju tanpa menghiraukan
aku yang berderet
berjejer bersama gebyar-gebyarnya
warna kehidupan yang menjanjikan
kemewahan diatas semua penderitaan
bersama para penumpang
yang akan bersama mencari kehidupan
dalam menuju bahtera kebutuhan
untuk meneruskan cita-cita

(Lubukpuding, 25/10/1991 - sedang sakit)

Kemaren Bukan Sejarah

Aku tak bisa bicara
dalam semua waktu dan peristiwa
dalam semua megnerti
aku tak mengerti
meski apa yagn kuperbuat
atas peristiwa hari ini
dan peristiwa kemaren
tentang ap ayagn telah terjadi
sepanjang penderitaan
yagn selau mengancam perjalanan
di sepanjang hidupku
akupun tak tau
sikap bagaimana menghadapi
segala cobaan
aku akan menerima segalanya
dengan rasa pasra
jika tuhan akan menghendaki demikian
aku akan tabah, aku akan sabar
barangkali ini adalah janjiku
yang dulu aku ikrarkan
saat menghadap-Mu
kini aku tak kuasa mengelak
karena aku sadari pada-Mu lah tempat
aku menyerahkan diri
dan seluruh ragaku
di hadapan-Mu aku terasa terlalu kerdil
yang tak punya kekuatan
segalanya kuperuntukkan untuk-Mu ya Tuhan

(Lubukpuding, 25/10 1991 - tatkala sedang sakit)

Penyair Bercerita

Penyair
adalah manusia
yang bercerita
tentang seni dan sastra
dan bercerita
tentang kehidupan
bercerita tentang haus dan lapar
dan semua keindahan

dan kesucian
di antara duka dan tawa
mereka
mereka melihat ulah
manusia
yang kini berpaling
dari kebenaran

(Jember, 1978)

Mimpi

Sedang kita semua tidur lelap
di antara kita tentu ada
yang bermimpi melihat bidadari
yang memakai kacamat tanpa busana
bersenda bergurau sambil berdansa
karena nyali ciut
kita semua lalu melompat
suara kita tersumbat
tangan kita gemetar
memanggil kemarau
untuk menabur kedamaian
menyerakkan kesuburan
menghamburkan keselamatan
untuk melepas kuku-kuku kita
yang terjepit danterinjak

(Gilimanuk, Bali, 1978)

Nasihat Buat Dinda

Dinda
kau ingin pergi pergilah
jalan di hadapan kita terbentang
takpernah menutup siapa yang
menggunakannya

Dinda
kau ingin makan makanlah
hidangan telah tersedia
santaplah sekenyang-kenyangnya
agar kau tetap segar bugar

Dinda
kau ingin tidur tidurlah
kasur empuk telah tersedia buat kita
tidurlah dengan nyenyak
menyambut mimpi

Dinda
jangan kita terlalu manja
dengan kehidupan
yang terlalu mewah
karena kemewahan menjadikan kita
manusia malas bekerja dan berusaha

Dinda
jangan marah aku hanya berbicara
agar dinda tak terlena

(Padang Tepong, 1978)

Surat Untuk Hari Esok

Bagi Generasi Muda

Kutulis surat ini buat kita semua
bukan lantaran aku merasa tertua
aku hanya ingin bercerita
tentang manusia
dan semua kehidupannya
andainya kita seorang pemuda
kita gunakan tenaga kita yangada
untuk rakyat dan bangsa
kita timba dankita tambah ilmu
untuk bekal hari tua kita
dankita jangan lupa beribadah
untuk bekal kita kembali ke alam baqa
kita ingat dunia tempat kita singgah sementara
andainya kita menderita kita tabah dan tawakallah
andainya kita bahagia dan banyak harta
kita berzakat fitrahlah di jalan Allah
jangan kita sombong dan berbangga diri
kita sadari semuanya takkan abadi selamanya
kita semua adalah ibarat sebutir atom di hadapan-Nya
kita camkan ini untuk menyongsong hari esok nan gembira

(Bengkulu, 1987)

Isi Pembangunan

Kawan sudahkah kita pikir?
untuk berbakti kepada negara kita ini
kalau belum apa yang sedang kita pikirkan

Kawan sudahkah kita pikir:
untuk menyumbangkan tenaga kita
pada negara kita ini
kalau belum apa yang patut kita sumbangkan

Kawan sudahkan kita tahu?
yang akan kita pikirkan?
kalau belum pikirkanlah
apa yang dapat kita berikan kepada negara ini

Kawan ayo kita bekerja
jangan kita bertopang dagu
kita teruskan tugas para pejuang
yang dulu mengorbankan jiwa raga
untuk mencapai kemerdekaan.

(Malang, Jatim, 1979)

Kalau Ingin

Bila kita seorang penyair
harus kita temukan seribu cemooh
kalau belum kita temukan
kita bukan seorang penyair

Bila kita seorang pengarang
harus kita temukan seekor monyet
yang menjadi pengantin
kalau belum kita temukan
kita bukan seorang pengarang

Bila kita seorang guru
harus kita temukan seorang
manusia yang menjadi penyamun
kalau belum kita temukan
kita bukan seorang guru

Bila kita seorang pemuda
harus kita temukan
apa yang dapat kita sembahkan
untuk negara
dan jangan kita hanya pandai
meminta
kalau belum kita temukan
kita bukan seorang pemuda

(Jember, 1978)

Peron Stasiun

Di peron stasiun lahat
mereka duduk menunggu
kereta api limex
lubuk linggau kertapati
yang akan melaju membawa
mereka pada sebuah kota
di ujung utara
tempat peraduannya
seorang dara
lonceng stasiun
berdentang tiga kali
suatu pertanda taklama lagi
fajar akan segera
menyingsing
mereka menghisap rokok
dalam kantong jaket levis
salah seorang temannya
untuk mengusir kantuk
yang masih sedikit tersisa
sejenak mereka bermain lamunan
mereka tersentak oleh gesekan besi
gemeretak dan meraung
kereta yang mereka tunggu
berhenti
mereka lalu melangkah
pluit berbunyi kereta bergerak
perlahan
selamat tinggal lahat
tempat mereka pertama kali menapak jalan citac-cita luhurnya

(Lahat, 1978)

Nanjungan

Kau adalah sebuah dusun
yang terpencil di lembah
sebuah bukit campang
kau punya pribadi anggun
tempo dulu kau peluk
para pejuang mengucir penjajah
kolonel bambang utoyo
seorang panglima yang gagah
tanpa kenal lelah
mengatur siasat
mengobarkan semangat
mengusir belanda agar enyah dari
bumi pertiwi ini
seorang letnan yahya bahar
komandan kompi harimau selatan
datang dan pergi keluar masuk
mencari dan menyampaikan informasi
istirahat sehari dua hari lalu
pergi lagi
rumah panggung berdinding papan
beratap seng yang dulu merupakan
markas bambang utoyo
kini tetap berdiri kokoh sebagai bukti
yang abadi sebagai saksi
yang selalu bersemi dalam hati sanubari
semua generasi bangsa indonesia

(Pasemah Airkeruh, 1992)

Hujan Gerimis Putih

Rerumputan
yang memoleskan
gincu kepalsuan
kini mengucapkan salam
bersabda kepada alam
menyambut dan bertanya
yang teramat panjang
pada semua getar diatas
kehidupan
yang sarat oleh segala
pertanyaan
yang tak lagi menjumpai
semua kebenaran

Berbicaralah Tentang Kehidupan

Biar mereka adalah
anak cacat
mereka tak pernah diam
mereka bisa berbicara tentang
kehidupan
dan mereka punya hari depan
walau mereka tak punya payung
cerita mereka takkan hapus
oleh hujan
walau mereka gemetar kedinginan
biar mereka orang yang tercampakkan
mereka tak butuh pertolongan
dan mereka juga bukan
sebarisan gerombolan penjilat
biar mereka lewat di depan lorong
orang semua melempar
mencibir melontarkan sejuta maki
biar tubuh mereka berbalut lumpur
mereka membawa sekamus kata
kami manusia penyandang cacat
yang masih berjiwa sehat.

(Kediri, 1979)

Kota Tembakau Kotaku

Kau akan bercerita
bergurau dan berangan
di tepi kali kedadung
yang kala itu
gelombangnya berderu
sebagai saksi antara kita
berdua
rambutmu yang terurai panjang
melambai seakan bertembang
berkata tentang hari depan
yang setiap saat kita perbincangkan

(Bang Taman Jember, 1978)

Gemetar

Kau ada dalam
kasih semua hati
yang sedang mendambakan
seraut wajah
ia melambai
ia membayang
di atas semua bibir
yang gemetar
menyesali semua kepergian
atas kematiannya.

(Surabaya Kota, 1979)

Peristiwa

Mendengar
lonceng
berdentang
yang mengabarkan
peristiwa kemaren
di tengah malam
dalam kesendirian
mereka terjaga
dari tidur
dan terdiam

(Lahat, 1980)

Setetes Kepastian

Di antara mereka
ada terbentang
jurang pemisah
yang tak dapat
ia langkahi
ada orang kaya
ada manusia jelata
hidup nista
serba tiada
melangkah bersama
mencari setetes
kepastian
di tengah keadaan

(Lumajang Kota, 1978)

Seketika

Seketika
mereka menjadi kaya
semua orang
akan datang meminta
dan menyembah
gubuk mereka
menjadi istana
sebuah mimpi
yang datang tanpa
diduga

(Jember, 1978)

Duka

Kerikil dan
bebatuan
menghamburkan duka
menghamburkan suka
membawa luka
yang ada
pada setiap manusia

(Semarang, 1980)

Sajak Buat Sang Wesi

kau sudah besar en
lima belas tahun kau kutinggalkan
sudah cukup membuat kau dewasa
saat aku pergi dulu
kau masih bermain boneka
dan kue putu dari tanah
saat kini aku kembali
kau telah menjadi seorang gadis
yang cantik dan jelita
mekar semerbak bak bunga melati
diantara hatiku yang berbisik lesu
karena madu adalah racun
yang teramat pahit
yang pernah kurasakan
sebagai pembunuh nyaliku
hingga aku putus asa
mohonku biarkan aku menjadi
pengagummu yang nomor satu
aku tak mau lagi merasakan
apa yang pernah kurasakan
dan tak mau lagi mengecap
apa yang pernah kukecap
biar hasratku ditutup kabut
meski aku tau kau cinta padaku
biarkan aku sendiri mendayung
perahu menempuh laut kehidupan
yang sarat dengan badai dan gelombang

(Jember, 1980)

Buat: Seorang yang tak dapat terlupakan di balik gunung

Cuma Kata

Di balik kota
yang dulu pernah kita
ucapkan
adakah?
yang tak menyimpan
kepalsuan
walau hati kita
bagai pualam
muka kita hitam legam

(Jember, 1978)

Merah Darah

Di bawah langit
yang meradang
menerjang kelam
badai datang berhembus
kencang
meniup seribu peristiwa
yang tersipan licin
membawa sebuah duka
mengitari kota merah dara
seketika tiba pada batas senja
semua peristiwa
mencekam pedih mengiris
dan terasa kaku
kepada siapa mereka mau bertanya
bibir mereka semua terkunci
tak meski mereka akui
apa yang telah mereka perbuat
akhirnya mereka diam
dan semua diam
tanda sepakat

(Jember, 1978)

Pengemis

Di ujung jalan sebuah
lorong
seorang anak manusia
meratap iba
mohon belas kasih
menanti untuk mendapatkan
sesuap nasi
suaranya terbata-bata
melangkah tanpa alas kaki
tidur beralas tanah
raut mukanya pucat pasi
badannya kurus kerempeng
mencari hidup hari ini
dan besok pagi
nafasnya kembang kempis
menunggu ajal
yang datangnya tak pernah pasti

(Jakarta, 1979)

Kenyataan

(buat anakku: Maret & Gusti & Pebi)

Di kamar tua rumah
tua ini
aku merenungi nasib
dalam kesendirianku
tak tau apa yang
harus ku perbuat
untuk menunjang masa
depan dan kesejahteraan
anakku
ku menoleh ke belakang
tiga anakku menangis
mengharap belas kasihku
lau kupeluk ketiganya
dan kusebut namanya
kubisikkan di telinganya
kau generasi buah hatiku
bila kau sudah besar
dan menjadi dewasa
belajar harus rajin dan
sungguh-sungguh
berbaktilah pada bangsa
dan agama
berjuanglah dengan tabah
jadilah orang yang sholeh
tak usah jadi penjilat
bekerjalah dengan jujur
dan setia kawan

(Gubuk Derita Lubuk Puding, 1989)

Doa

Ya Tuhan
janganlah kami disiksa
bebaskan kami dalam derita
karena kaulah tempat kami
berlindung dan memohon ampun
jadikanlah kami orang
yang beriman
yang taat mengerjakan
perintahmu
dan jauhkanlah kami
dari siksa api neraka
kau maha pengasih
dan maha penyayang
maha pengampun dan maha besar
penguasa bumi dan penguasa langit
pada Mu jua kami meminta
berikanlah petunjukmu
yang benar
untuk bekal bila kami
kembali ke pangkuanMu
dan berikanlah kami
tempat di sorga yang abadi

(Surabaya Kota, 1978)

Kenyataan

Dahan tempat kita bergantung
kini telah patah jatuh melayang
terbakar teriknya matahari
dedaunan tempat kita berlindung
kin telah layu kering dimakan rayap
semakin kuat kita mendayung
sehebat itu pula gelombang datang
tapi kita harus tidak perduli
dengan semua keadaan
kita bertekat harus sampai di pinggir pantai
walau kita tahu pantai itu hanya berisi
tumpukan karang yagn sangat tajam
kita ingin berlabuh
walau sekejap mengibarkan bendera perjuangan
kita akan tunjukkan sebuah tekat pada burung camar laut
bahwa kita adalah seorang manusia
yang punya kemauan hidup mandiri
yang punya kepandaian merubah pantai yang begitu
gesang menjadi lahan yang sangat subur
dan akan kita sulap pantai peraduan kita
menjadi mahligai yang begitu indah
seperti istana raja pada zaman seribu satu malam
di sini akan kita ukir bersama
sebuah monumen kehidupan yang baru.

(Pelabuhan Merak, 1978)

Ombak Meradang

Di belakang sebuah jendela
di atas bui gelombang
kuteriakkan suara
dan kukumpulkan tenaga
suaraku bergema
dan menggaung
sekejap lalu hilang
lenyap ditelan
ombak yang sedang
meradang
aku lalu menerjang
seperti orang
yang kesetanan

(Lumajang, Jatim, 1978)

Untuk Mereka

Kita masih terlalu muda
Untuk berbicara
Tentang arti
Sebuah makna kata
Untuk mereka
Yang sering tidur
Di emper-emper took

Kita masih terlalu muda
Untuk berbicara
Tentang modal dan wiraswasta
Untuk mengundang para penganggur
Yang kini kian membengkak

Kita masih terlalu muda
Untuk berbicara
Tentang pengusaha
Yagn dapat menolong mereka

(Surabaya Kota, 1978)

Sebuah Harapan Kosong

Di awal November lalu
Pada sebuah pertemuan
Kau berikan sepercik
Harapan
Sambil tersenyum ramah
Kau lepaskan janji setia
Diatas getar bibirmu
Yang merah
Kau bersatu pada hatiku
Yang terbelah
Yang dulu pernah kau balut
Dengan seribu dusta
Kini senyummu
Adalah sebuah harapan kosong

(Bali, 1978)

Galau

Pada malam pekat
Berwarna kelabu
Aku duduk melamuni diri
Sambil menanti
Hujan merah jambu
Kala itu hatiku
Sedang galau
Menunggu mereka
Dalam keadaan dendam
Yang sedang
Melakukan sebuah dosa

(Malang Kota, 1979)

Ada

Ada yang redup
Ada yang menyala merah
Ada yang hancur lebur
Ada yang semarak
Ada yang meremang
Ada yang berkelip
Itulah sebuah perjuangan

(Banyuwangi, 1978)

Di Persimpangan Jalan

Di akhir perjalanan
Di sebuah persimpangan
Kukejar baying-bayang
Kuucapkan semua
Dan kuteriakkan
Untuk memanggil
Baying-bayang yang kukejar
Tak menghiraukan
Panggilanku
Ia semakin tak perduli
Seakan tak mendengarkan
Biar aku telah mengeluh
Kini dipertigaan
Aku berdiri
Tak tahu pasti
Ke arah mana aku akan berjalan
Membawa kakiku melangkah
Menyelusuri sisa hidupku

(Surakarta, 1980)

Abad Siti Nurbaya

Abad Siti Nurbaya

Kita percaya
bahwa mereka
adalah ksatria
tapi kita tak percaya
bahwa mereka
adalah kita
dan kita adalah mereka
kita duduk di sini
tentu akan menceritakan
semu acerita kehidupan
yang ki9ni bukan zaman
siti nurbaya
pada mereka yang diam
dalam menatap
dan tidak benci pada
kebencian
yang tidak akan melepaskan
selubung yang menyembunyikan
semua kejahatan
dulu kita semua adalah buta
tidak melihat dalam segala kata
setapak kini demi setapak
kita melangkah
menaiki tangga yagn dulu
tak pernah kita jalani
karena perkiraan kita semua tak bisa
sehingga kita berjalan hati-hati
di atas sikap keyakinan kita
bersama tekad tentunya kita harus ada di sana
kita baca mantra-mantra yang kita pelajari dari guru
mengapa oran gbisa kita tidak bisa, mengapa orang bisa kita bisa
kita harus bisa semuanya menatap hari depan dengan sikap keyakinan
yang bukan menjadi penjilat.

Sepercik Air

Di atas sepercik air
yang pijar membias
ada beberapa keping hati
yang bernyanyi
menyanyikan lagu
sebait lagu duka
yang mengisyaratkan
mulut-mulut kecil
tak lagi terbahak
karena tersumbat
lidah yang tersekat
giginya yang tak lagi
gemeretak.

(Denpasar Bali, 1978)

Puisi Liris

Kepada Bupati 4 Lawang
Hitunglah aku atau tidak
tapi ingatkan
bahwa di jalan yang kau tapaki
menuju kursi itu
terbentang huruf-huruf
yang telah kukawinkan
hingga melahirkan negeri ini
Hitunglah aku atau tidak
tapi ketika minum kopi sore hari
telusuru wajahku di lelangit Empat Lawang
niscaya terbaca olehmu
di janggutku, bergelantungan anak-anakku
menggamit tanganmu

(Lubuk Puding, 8 Nov. 2005)

Posting Lebih Baru Beranda